RAJAWARTA : Dengan tema “Rembuk Suroboyoqn Mengawal Merwh Putih” sejumlah elemen masyarakat kota Surabaya menggelar Diskusi publik di Balai Pemuda, di Jalan Gubernur Suryo (31/8).

Salah satu tujuan diskusi publik ini adalah mengawal Pemerintahan Jokowi-Maruf dengan cara ikut menjaga stabilitas keamanan Nasional.

Dalam diskusi tersebut, para nara Sumber dan audiensi hadir tidak lepas membahas isu yang belakangan terus memanas, yakni insiden di asrama Papua di Jalan Kalasan Surabaya.

Acara ini dihadiri beberapa nara Sumber yang kompeten di bidangnya, diantaranya Bambang Budiono (akademimis Fisip Unair), Teddy Wibisana (Dewan Penasehat Almisbat), Teguh Prihandoko (Koordinator Ksatria Airlangga), Chrisman Hadi Ketua DKS), dan Heru Hendatmoko (manatan ketua AJI).

Dalam penjelasannya saat diberikan kesempatan untuk menyampaikan pendapatanya, Teddy Wibisana mengatakan bahwa dirinya bersama elemen lain di Surabaya ingin melihat kondisi politik dan ekonomi pasca Pemilu (Pilpres dan Pileg), yang ternyata diwarnai gerakan ekstrim.

“Terbaru insiden di asrama papua. Yang reaksional terhadap insiden perobohan tiang bendera maupun aksi balasan di Papua itu dua-duanya merupakan tindakan ekstrim yang menurut kami tidak bisa dibenarkan, karena dampaknya instabilitas nasional,” ucapnya di Komplek Balai Pemuda.

Terkait ekonomi, Teddy tetap berharap agar peningkatannya sesuai target karena sangat mempengarui kebutuhan kesempatan kerja. “Jika kemarin itu targetnya 5,4%, ternyata hanya mencapai 5,17%. Maka kami berharap di periode kedua ini bisa melampauinya,” tandas Komisaris BUMN PT.Indofarma ini.

Sumber lain yang hadir dalam diskusi tersebut, Teguh Prihandoko Kordinator Ksatria Airlangga mengatakan, pemerintah seharusnya bertindak tegas terhadap pelaku aksi di beberapa lokasi di tanah air. Baik di Malang, Surabaya, Makasar, dan Papua sendiri, terkait insiden Asrama Mahasiswa Papua.

“Terutama kepada mereka yang terindikasi kuat menjadi provokator, dan yang dengan sengaja menunggangi kasus tersebut. Ini sudah bukan jamannya,” tegasnya.

Diakhir acara seluruh seluruh peserta yang hadir dalam diskusi tersebut termasuk 10 elemen relawan Jokowi menyampaikan pernyataan sikap terhadap inseden asrama mahasiswa Papua, yakni sbb:

  1. Papua adalah kita. Luka Papua adalah luka kita semua.
  2. Kita sedih dengan peristiwa yang terjadi di Papua hari-hari ini. Kita berduka atas jatuhnya korban, baik dari kalangan masyarakat sipil maupun aparat keamanan.

3.Tapi kita juga marah atas pemicu awal munculnya rentetan peristiwa yang mengakibatkan terjadinya kekerasan dan perusakan fasilitas publik di Papua.

  1. Kita pun mengutuk keras pihak-pihak yang menunggangi kerusuhan di Papua demi syahwat politik. Termasuk mereka yang justru bergembira dan bersorak atas peristiwa kerusuhan yang terjadi.

5.Kita tahu, tragedi ini berawal dari peristiwa yang terjadi di Kota Malang dan Surabaya. Dua kota di Provinsi Jawa Timur yang selama ini dikenal sangat toleran terhadap keberagaman. Malang dan Surabaya bahkan telah menjadi benteng kokoh pluralisme. Kebhinekaan menjadi makanan sehari-sehari warganya yang terkenal bersifat egaliter ini.

  1. Namun tindakan rasisme yang ditunjukkan oleh segelintir orang di dua kota itu, baik sipil maupun aparat, telah merusak suasana damai yang selama ini terjaga kuat.
  2. Karena itu, sebagai bagian dari elemen masyarakat sipil di Jawa Timur, kita meminta Presiden Jokowi tegas menindak siapa pun yang secara sengaja melakukan tindakan rasisme dan intoleran terhadap sesama warga negara. Jangan jadikan Papua sebagai proyek politik yang membahayakan kehidupan bersama.
  3. Cukup sudah bangsa ini dikoyak intoleransi dan radikalisme yang selama ini terkesan dibiarkan. Jangan ditambah lagi dengan memberi ruang terhadap sikap dan tindakan berbasis rasisme. Negara harus hadir di sini.

9.Kita adalah Papua. Kita semua adalah saudara. Merah darahku, putih tulangku! (q cox)

Print Friendly, PDF & Email