RAJAWARTA : Wahana Wisata Mangrove Wonorejo Surabaya dikeluhkan wisatawan. Pasalnya, wahana wisata yang mengandalkan mangrove, sungai dan laut, terlihat mulai tidak terawat. Beberapa tempat juga terlihat mangkrak.

Salah satu area wisata yang menjadi sorotan para wisatawan adalah ambruknya jembatan bambu. Karena ambruk. Akhirnya, jambatan bambu yang menelan anggaran Rp 1,2 Milyar itu tidak bisa dinikmati wisatawan.

“Jembatannya bagus sekali. Sayangnya kita tidak bisa menikmatinya,” ujar seorang pengunjung, Dimas Raka (30/5/2021).

Begitu juga dengan Ahmad Basyaria (31). Dia sangat menyayangkan melihat kondisi jembatan bambu (rusak). Padahal ungkapnya, jembatan itu menelan anggaran yang tidak sedikit. “Sayang sekali jembatan sebagus itu dibiarkan mangkrak,” tukasnya kepada rajawarta.

Lalu apa sebenarnya yang terjadi dengan jembatan bambu di Mangrove Wonorejo? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, rajawarta mengkonfirmasi ke Yuniarto Herlambang, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Surabaya (2/6/2021).

Kepada rajawarta Herlambang membenarkan rusaknya Jembatan Bambu di Mangrove Wonorejo Surabaya. Menurutnya, rusaknya jembatan bambu yang terkesan dibiarkan oleh Pemerintah Kota Surabaya alias Pemkos, disebabkan beberapa kendala.

Salah satunya adalah, pemerintah tidak bisa berbuat banyak terhadap rusaknya jembatan bambu di Mangrove Wonorejo, karena Surabaya terlilit pandemi covid-19. “Karena pandemi mas,” tukasnya.

Berikutnya ungkap Herlambang, adanya kendala teknis. Dimana kontraktor yang menggarap jembatan bambu diduga bermasalah. “Kontraktornya bermasalah, sehingga pembangunan jembatan bambu ini tidak bisa dilanjut,” ujarnya.

Sebenarnya lanjut Herlambang, jembatan bambu yang ada saat ini belum selesai alias belum tuntas pembangunannya. “Nah, karena kontraktor yang membangun jembatan diduga bermasalah, maka yang terjadi, seperti yang kita lihat saat ini (rusak),” ulasnya.

Herlambang menambahkan, untuk Pembangunan Jembatan Bambu Pemkos menganggarkan sebesar Rp 1,2 M. Anggaran sebesar itu, untuk anggaran secara keseluruhan atau sampai selesai. Namun karena belum selesai, anggaran itu tidak terserap semua.

“Anggaraanya Rp 1,2 M, karena pembangunannya belum selesai, sehingga anggaran tersebut tidak terserap semua,” tuturnya.

Meski begitu ujarnya, untuk kedepannya Pemkos masih punya keinginan untuk melanjutkan pembangunan. “Kedepannya akan kita bahas,” cetusnya. (As)

Print Friendly, PDF & Email