RAJAWARTA : Turunnya berita dengan Judul “Tidak Punya Lapangan, 4 Atlet Basket Surabaya Peraih Medali Emas Wadul ke Dewan” direspon cepat oleh Ketua Persatuan Basket Seluruh Indonesia (Perbasi) Kota Surabaya.

Namun sebelum merespon Berita tersebut, Evi Ekawati lebih dulu mengkorfirmasi Grace Sondakh nara sumber berita tersebut diatas.

Wanita Calon Kuat Ketua Perbasi Jawa Timur itu mengatakan, sebenarnya pernyataan yang disampaikan Grace Sondakh pelatih Club Brawijaya tidak benar.

“Tadi bapak hubungi saya kan ndak bisa, karena saya lagi hubungi Grace Sondakh itu. Saya bilang apa betul berita ini dari ibu, saya tanya gitu,” jelasnya (19/10/2021) sore.

Menjawab pertanyaan Evi, Grace Sondakh mengatakan bahwa dirinya tidak bermaksud mengaitkan dengan PON XX Papua. Tapi, dirinya sedang mencari lapangan untuk club Brawijaya.

“Terus beliau bilang. Tidak seperti itu konteksnya ibu, dia bilang gitu. Karena nggak ada hubungannya dengan PON, karena saya bukan atletnya PON, semua tidak ada. Saya cuma cerita tentang club saya sendiri, tentang club kecilku. Dimana club Brawijaya itu mencari lapangan susah,” jelas Evi, mengutip pernyataan Grace Sondakh.

Karena menurut Grace Sondakh, lanjut Evi, namanya atlet walaupun clubnya kecil tapi punya lapangan dan atletnya bisa bermain dengan bagus, maka bisa memunculkan bibit unggul yang diharapkan Jatim maupun Nasional. “Jadi mereka tidak komplain seperti itu katanya,” jelas Evi via sambungan seluler.

BERITA TERKAIT : Tidak Punya Lapangan, 4 Atlet Basket Surabaya Peraih Medali Emas Wadul ke Dewan

Kemudian Evi menjelaskan, empat atlet yang disebutkan dalam berita tidak semua dari Surabaya. Tapi dari berbagai daerah di Jatim. “Jadi kalau judul beritanya empat atlet Surabaya, itu saja sudah nggak sama, udah beda, udah salah. Kalau misalnya dibilang, Surabaya untuk menunjang PON kita sampai kekurangan atau kesulitan lapangan, itu nggak benar Pak,” tegas Evi.

Sebab ungkap Evi, karena ketika bicara tentang PON banyak insan-insan basket yang sangat mendukung. “Bahkan yang diharapkan, yang dibangga-banggakan sama kita semua, dan mereka (insan basket) support Pak,” ujarnya.

Tapi karena ada Pandemi membuat atlet harus latihan online, itu force majeure. “Jadi bukan kehendak siapa-siapa. Terus dibilang latihannya sampai online, gara-gara ndak dapat lapangan bukan gitu konteksnya,” jelasnya.

Evi menegaskan, kalau dari sisi Perbasi, memang atlet berlatih online. Nah terkait dengan atlet yang berlatih di Unesa, karena semua pihak akan mendukung kalau dibutuhkan kepentingan PON.

“Terus kalau soal mengapa mereka di Unesa, itu kan kerjasamanya. Karena sebetulnya semua pihak, baik Unesa maupun DBL kalau dimintai oleh PON untuk tempat latihan, pasti selalu bilang yes,” tukasnya.

Evi tidak membantah kalau empat atlet, yakni Adelaide callista wongsohardjo, Janan Salma, Devy Kartika, dan Elysia kartika disebut atlet Jatim. Tapi ke empat atlet itu, tidak semua dari Kota Surabaya. “Karena KTP-nya ada Malang, ada Banyuwangi, ada Madiun. Kita nggak berani ngeklaim Pak,” tuturnya.

“Tadi satu orang yang saya tanyakan ke Bapak Elysia Kartika adalah KTP Surabaya, itu memang atlet Surabaya Pak. Yang Surabaya hanya satu Pak, namanya Elysia Kartika,” ujarnya.

Evi menegaskan, Perbasi selalu bertanggungjawab atas ketersediaan lapangan untuk atlet PON. “Makanya Pak Hoslih sudah ngomong sama saya, kalau Surabaya butuh lapangan untuk Porprop, ivennya Perbasi selalu disupport di Gelora Pak. Karena kita sudah dapat Gelora yang ada di Indragiri ya pak,” tukasnya.

Print Friendly, PDF & Email