RAJAWARTA : Pasca pelaksanaan Pemilu serantak 17 April 2019, diharapkan Hari Raya Idul Fitri 1440 H dijadikan momen untuk menyatukan perbedaan.

Direktur Masjid Joglo Roudlotul Muttaqin Sidoarjo, M Khoirul Rijal dalam rilis tertulisnya mengatakan, Idul Fitri merupakan momentum suci menyatukan perbedaan yang ada di masyarakat dengan menggalakkan serta mengeratkan silaturahmi antar semua lapisan masyarakat.

“Usai Sholat Idul Fitri di Masjid Joglo Roudlotul Muttaqin, jamaah berbaur dan menyatu saling bermaaf-maafan satu sama lain tidak memperlihatkan adanya perbedaan. Karena memang sejatinya agama mengajarkan untuk saling menghormati antar sesama,” terangnya.

Dia menjelaskan, seperti yang ditunjukkan jamaah Masjid Joglo dengan saling memaafkan antar sesama. Diharapkan teladan jamaah Masjid Joglo bisa dilakukan oleh elit politik belum Move on.

“Yang diinginkan oleh jamaah atau masyarakat itu sederhana. Yakni ketauladanan yang dicontohkan oleh elit politik kita. Bukan malah menajamkan perbedaan antar sesama. Lebih-lebih menggunakan simbol agama untuk memperkeruh perbedaan,” tegasnya.

Ustadz Miftahuzzuhdi Al Hafidz dalam khutbah Sholat Idul Fitri mengungkapkan Hari Raya Idul Fitri adalah momentum yang tidak boleh dilewatkan dengan melakukan silaturahmi antar sesama.

Karena hikmah Idul Fitri adalah silaturahmi. Hikmah dari silaturahmi adalah momentum untuk saling memaafkan. Jika sudah saling memaafkan satu sama lain tentu saja akan terjalin kembali tali persaudaraan. Jika persaudaraan sudah terwujud maka akan lahir Persatuan. Jika Persatuan nasional sudah terjadi maka bangsa Indonesia siap menghadapi segala bentuk tantangan dan menyongsong kejayaannya.

“Wujud nyatanya adalah sitaturahmi dan memperkuat trilogi ukhuwah, ukhuwah Islamiyyah, ukhuwah wathaniyyah dan ukhuwah basyariyah. Enyahkan semua sikap egoisme. Tanggalkan semua rasa iri dan dengki apalagi permusuhan. Mari menggenggam tangan bersama-sama merajut tali persaudaraan dan persatuan nasional,” jelasnya. (hms/MJ)