RAJAWARTA : Setelah mendeklarasikan Posko Pengaduan Covid-19 “Lapor Dewan” (LAWAN), Camelia Habiba langsung bergerak untuk menindaklanjuti setiap laporan warga yang diterimanya.

Ini berita bagus : 7 bacakada Jatim dapat rekomendasi PDIP

Dari hasil tindaklanjutinya, politisi PKB itu menemukan beberapa langkah Pemerintah Kota Surabaya (Pemkos) dalam memutus mata rantai penyebaran covid-19 dinilainya sangat tidak efektif, bahkan jika dibiarkan langkah Pemkos itu akan menambah tempat ‘transmisi’ baru bagi covid-19 di Kota Surabaya.

Video pilihan untuk Anda : Pak Menteri Tanggapi Penanganan covid 19 Kota Surabaya

Hal tersebut dia buktikan tatkala Wakil Ketua Komisi A DPRD Yos Sudarso itu berkunjung ke dua hotel yang digunakan Pemkos mengisolasi warga Surabaya baik yang reaktif ataupun yang PDP.

Video Pilihan Untuk Anda : Jatim dan Surabaya saling Tuding Terkait Data covid 19

Di kedua Hotel tersebut ungkapnya, isolasi ala Pemkos diduga sama sekali tidak menerapkan Physical Distancing (Physing) dan Social Distancing (Socing). “Jadi, antara warga yang reaktif dan PDP masih berinteraksi dengan tamu-tamu yang lain karena hotel itu masih nerima tamu reguler,” tutur Camelia berkisah kepada rajawarta (14/5/2020).

Dia mengungkapkan, seharusnya di setiap hotel yang dijadikan tempat isolasi warga ada petugas kesehatan untuk melakukan pengawasan sekaligus memberikan pengarahan kepada warga yang diisolasi.

Kalau fakta tersebut dibiarkan terus belangsung, maka besar kemungkinan hotel-hotel yang dijadikan tempat isolasi bagi warga yang terpapar covid-19 akan menjadi tempat transmisi baru virus import asal China.

Untuk lebih jelasnya, Silahkan simak pernyataan Camelia Habiba yang terekam dalam video di atas :