RAJAWARTA : Dalam Pemilihan Legislatif (Pileg) dua bulan lalu disebut-sebut banyak petahana yang tidak terpilih lagi untuk menjadi wakil rakyat. Sebagian dari mereka yang gagal kembali menjadi legislator tentunya merasa kecewa, dan rasa kecewa para petahana itu kabarnya lebih berat dari para calon legislator pendatang baru.

Begitu juga dengan petahana di Kota Surabaya yang gagal dalam pertarungan menuju Gedung DPRD Surabaya, di Jalan Yos Sudarso 18-22 Surabaya.

Petahana yang gagal kembali masuk ke Gedung DPRD Surabaya adalah Eddy Rahmad, politisi asal Partai Hanura. Dengan jujur pria asal Bogor itu mengakui bahwa dirinya kecewa karena gagal dalam kompetisi Pileg.

“Ya tidak bisa dipungkiri ya, semua orang pasti punya perasaan yang sama ketika menemui kegagalan. Kalau kecewa pasti kecewa ya. Sama dengan yang lain,” ujar Edi saat didoorstop pewarta media ini di depan pintu masuk Gedung DPRD Surabaya. (4/7).

Meski kecewa ungkap Eddy, dirinya tidak boleh larut dalam rasa kecewa karena gagal dalam mengggapai keinginan. “Kecewa itu pasti, tapi bagi saya pribadi kecewa itu tidak boleh berlarut-larut. Karena bagi saya menjadi pemimpin (wakil rakyat) bukan karena manusia,” ungkapnya.

Rasa kecewa yang berat itu tambah Eddy harus diterima dengan lapang dada karena itu kehendak yang diatas. “Jadi kalau kita percaya takdir maka rasa kecewa itu tidak akan berlarut-larut,” tukasnya.

Menurut Eddy dalam menghadapi kegagalan setiap manusia memang tidak sama. Semua tergantung orangnya. Tapi bagi mereka yang tidak kesibukan pasca jadi laegistor maka bisa saja rasa kecewa itu akan berlarut-larut.

“Gini, gini, ini kan tergantung orangnya, kalau di DPRD ini kan tidak semua orang ini dia tidak punya pekerjaan, nganggur dan sebagainya. Kan banyak juga orang-orang yang punya usaha. Ya termasuk saya (punya pekerjaan),” ujarnya.

Dia menambahkan, bagi yang kecewa berat bahkan bisa berlarut banyak faktor yang bisa menjadi penyebabnya. “Gini, mungkin mereka tidak punya penghasilan, mungkin dia tidak punya progres setelah duduk di DPRD. Dan kebetulan saya di DPRD tidak pernah merasa dispesialkan,” pungkasnya.

Sementara Junaedi politisi asal Partai Demokrat tidak mau berkomentar banyak karena gagal kembali masuk ke Gedung DPRD. Dia hanya mengatakan kalah menang dalam pertarungan itu biasa. “Biasa saja, kan ada menang dan kalah,” cetus Junaedi.