RAJAWARTA : Prestasi Walikota Surabaya Tri Rismaharini or Risma tidak perlu dipertanyakan lagi. Berkat prestasinya puluhan penghargaan baik dari dalam negeri maupun luar negeri terus mengalir ke pundi-pundi prestasinya.

Ini berita bagus : 7 bacakada Jatim dapat rekomendasi PDIP

Acungan jempol dari warga Surabaya juga berbanding lurus dengan raihan prestasi yang dikantonginya. Di balik suksesnya, Walikota berjibab itu ternyata sama seperti manusia lainnya, yakni sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangan.

Video pilihan untuk Anda : Pak Menteri Tanggapi Penanganan covid 19 Kota Surabaya

Beberapa waktu lalu, rajawarta berkesempatan mewawancarai politisi PKS, Reni Astuti. Banyak hal dijabarkan wanita yang saat ini menjabat Wakil Ketua DPRD Yos Sudarso, Kota Surabaya. Mengapresiasi dan mengkritisi menjadi narasi khas legislator tiga periode itu.

Video Pilihan Untuk Anda : Jatim dan Surabaya saling Tuding Terkait Data covid 19

Bagaimana pendapat anda tentang kepemimpinan Walikota Surabaya, Tri Rismaharini or Risma? Sebagai pelayanan rakyat ungkap Reni, kepemimpinan Risma tergolong bagus dalam hal pembentukan karakter di birokrasi.

“Bu Risma Bagus. Pada sisi pembentukan karakter. Birokrat yang melayani, birokrat yang bersih. Saya meilihatnya cukup terlihat,” jelas Reni yang juga bakal calon walikota PKS Kota Surabaya.

Penilaian Reni tersebut dihasilkan dari kacamatanya yang jauh memandang, mulai dari OPD, Kecamatan hingga ke Kelurahan. Dari sisi ini, tutur Reni birokrat memperlihatkan nilai plus.

“Jadi birokrat kita sekarang sampai di level kelurahan paling nggak ya Kecamatan bagus dalam kontek bahwa dia adalah pelayan. Jadi birokrat adalah pelayan rakyat, birokrat harus bekerja dan kemudian membangun sebuah pemerintahan yang bersih. Disisi-sisi itu yang bagus,” jelasnya.

Reni mengatakan, perhatian Pemkot Surabaya yang digawangi Risma juga memperhatikan pendidikan, kesehatan, dan insfrastruktur sudah tergolong baik.

Menurut Reni, Pasca Risma nantinya ada beberapa hal yang perlu ditingkatkan. Bagaimana pun juga, selama 10 tahun bukan waktu yang perfect untuk menuntaskan tanggung jawabnya sebagai pelayan rakyat.

“Ya saya kira, Bu Risma itu memimpin kan 10 tahun. Membangunan sebuah kota itu kan 10 tahun tidak cukup. Ya tentu ada hal-hal yang belum tuntas. Misalkan terkait dengan pemenuhan hunian bagi warga Surabaya yang berpenghasilan rendah,” jelasnya.

Karena lanjutnya, Kota Surabaya yang cukup luas ini semakin terjejali jutaan warga sementara harga properti yang semakin mahal menjadi penyebab pemenuhan kebutuhan hunian terkendala.

“Surabaya dengan luasan 350 KM persegi ini semakin padat kemudian harga properti harga tanah semakin tinggi, nilai-nilai semakin mahal tidak terjangkau oleh warga kota untuk memenuhi kebutuhan papan, maka solusi hunian vertikal yang perlu untuk diberikan kepada warga yang berpenghasilan rendah,” tukasnya.

Selain masalah hunian yang menjadi PR, ada persoalan lain yang perlu dituntaskan oleh pengganti Risma diperiode pemerintahan selanjutnya. Misalnya, masalah kesempatan kerja bagi warga Kota Pahlawan.

Satu hal yang tidak kalah pentingnya dari persoalan tersebut diatas, tambah Reni adalah melibatkan anak-anak muda di ruang-ruang publik, pelibatan anak-anak muda dalam membangun kota Surabaya. “Saya kira ini juga terus untuk kita tingkatkan,” pungkasnya.

Melengkapi tulisan diatas, ikuti pernyataan Reni Astuti di bawah Ini :