RAJAWARTA : Bulan Juni tahun ini merupakan bulan super sibuk bagi orang tua, setelah menghadapi Idul Fitri orang tua (ortu) harus berjuang untuk mencarikan sekolah anaknya. Bagi orang tua tertentu, Sekolah Negeri masih menjadi favorit untuk memasukkan anaknya di sekolah sesuai ‘selera’.

Ini berita bagus : 7 bacakada Jatim dapat rekomendasi PDIP

Tapi bagi orang tua tertentu pula ada yang tidak peduli dengan sekolah yang disediakan pemerintah, Sekolah negeri. Karena bagi orang tua tertentu lebih memilih menyekolahkan anaknya ke sekolah berbasis agama, Misalnya Sekolah Muhammadiyah. “Menanamkan dan menguatkan aqidah bagi saya lebih penting bagi anak-anak saya,” jelas Isa Fathoni warga Kedinding Lor-3 Surabaya, hari ini.  

Video pilihan untuk Anda : Pak Menteri Tanggapi Penanganan covid 19 Kota Surabaya

Bukankah di sekolah negeri juga diajarkan tentang Agama? Iya benar di sekolah negeri diajarkan pelajaran Agama, tapi frequensi pelajaran agamanya lebih banyak di sekolah agama. “Ingat…!!! di sekolah negeri anak kita berbaur dengan banyak latar belakang agama. Jika sudah demikian pengetahuan agama anak-anak kita masuk bisa terpecah,” jelasnya.  

Video Pilihan Untuk Anda : Jatim dan Surabaya saling Tuding Terkait Data covid 19

Dia menambahkan, masuk ke sekolah berbasis agama merupakan ‘warisan’ dari orang tua. “Saya sendiri sejak kecil disekolahkan di sekolah berbasis agama, dan sekolahnya adalah sekolahan Muhammadiyah. Ni, anak saya lulus dari SD Muhammadiyah 25 akan saya masukkan ke Muhammadiyah 15. Masalah biaya, bismillah,” tukas Isa di sela penerimaan surat keterangan kelulusan.

Lain halnya dengan Isa Fathoni. Nunuk, Warga Tenggumung Baru 6, Surabaya lebih memilih menyekolahkan anaknya ke sekolah Negeri. Karena menurutnya, menyekolahkan anaknya bisa membuat koceknya aman. “Saya tidak punya uang untuk menyekolahkan anak saya ke sekolah swasta. Makanya, semoga saja anak saya diterima di SMP 44,” tuturnya singkat.

Pernyataan Isa Fathoni dan Nunuk merupakan secuil pernyataan wali murid di Surabaya. Bisa saja ada yang tidak sependapat dengan pendapat keduanya. Yang pasti, pesannya adalah mau diarahkan kemana masa depan anak kita? Itu tergantung kecerdasan orang tua memilih sekolah untuk anak-anaknya.