RADJAWARTA : Ketika memasuki bulan Ramadhan ada pemandangan lain di Kabupaten Banyuwangi. Pemandangan itu adalah munculnya pedagang dadakan alias musiman yang menjual krai. Buah krai banyak diburu para pembelinya karena bahan utamanya minuman yang menyegarkan dikala buka puasa.

Ini berita bagus : 7 bacakada Jatim dapat rekomendasi PDIP

Sekedar diketahui, bentuk buah krai mirip dengan timun suri namun dengan daging buah yang berwarna orange cerah. Warna kulitnya cenderung kuning dengan sulur kehijauan. Buah ini rasanya hampir sama dengan buah blewah, namun tekstur daging buahnya lebih lembut. Aroma buah yang masak juga jauh lebih harum dibanding blewah.

Video pilihan untuk Anda : Pak Menteri Tanggapi Penanganan covid 19 Kota Surabaya

Buah ini biasanya disajikan dengan air gula yang sudah dilarutkan dengan air terlebih dahulu. Di campur es batu, hmmm rasanya makin nikmat dan segar.

Video Pilihan Untuk Anda : Jatim dan Surabaya saling Tuding Terkait Data covid 19

Salah satu pedagang buah krai adalah Suripah (60) bersama anaknya Ana (32). Suripah berjualan di pinggir jalan nasional Kabat-Banyuwangi bersama dengan beberapa pedagang lainnya. Tempat ini sejak lama memang telah menjadi pusat penjualan buah krai selama Ramadan di Banyuwangi.

“Pertama kali yang berjualan di kawasan sini adalah Bapak saya, mulai tahun 80-an. Bapak satu-satunya pedagang di sini. Dulu masih memakai alas tikar untuk berjualan, tidak pakai lapak seperti sekarang. Sekarang saya dan ibu yang meneruskan  usaha ini,” ucap Ana saat menceritakan awal keluarganya berjualan buah musiman ini.

Lapak Ana dan ibunya mulai dibuka pada jam 07.00 wib hingga jam 17.00 sore. Buah Krai dijual secara eceran atau bijian oleh Ana dan ibunya. Harganya mulai Rp. 3.000 untuk ukuran yang paling kecil dan Rp. 20 ribu untuk ukuran terbesar. Dalam satu hari omsetnya bisa mencapai Rp. 2 juta atau jika sedang sepi minimal bisa mengantongi Rp. 700 ribu.

“Alhamdulillah karena adanya cuma bulan puasa, ya setiap jualan diserbu pembeli. Kami sendiri mulai jualan sudah sejak puasa kurang dua hari, biasanya nanti sampai beberapa hari setelah lebaran. Maklum, banyak pemudik yang juga kangen buah ini, banyak plat mobil luar kota yang mampir beli,” kata Ana. (sbr/hms/bwi)