RADJAWARTA : Tepat setahun yang lalu, kira-kira pukul 00.06 WIB warga Surabaya beraktivitas seperti biasa. Bagi yang suka olahraga mereka memanfaatkan sejuknya pagi dengan mengayuh sepeda ada juga yang jalan kaki.

Ini berita bagus : 7 bacakada Jatim dapat rekomendasi PDIP

Sementara bagi umat Nasrani mereka pergi ke gereja masing-masing untuk menjalankan ibadahnya. Kesan itu seakan menyebutkan bahwa kota Surabaya adalah keberagaman. Dan, warga kotanya bisa menjaganya.

Video pilihan untuk Anda : Pak Menteri Tanggapi Penanganan covid 19 Kota Surabaya

Tenang dan menyenangkan Minggu pagi kala itu. Ketenangan itu juga terlihat di Mapolda Jatim. Sebagian masyarakat berkumpul di lapangan Mapolda mengikuti istiqosah guna mendoakan kelancaran dan keselamatan Pilkada Jatim.

Video Pilihan Untuk Anda : Jatim dan Surabaya saling Tuding Terkait Data covid 19

Namun suasana nyaman pagi hari itu tiba-tiba berubah setelah warga Surabaya mendengar kabar bahwa dua gereja Santa Maria Tak bercela di jalan ngagel Madya diserang teroris dengan meledakkan bom sekitar pukul 06.30 WIB.

Begitu juga dengan yang terlihat di Mapolda Jatim, di tengah khusuknya semua pejabat, ulama dan tokoh masyarakat yang mengikuti istiqosah mereka juga terlihat kaget mendengar kabar serangan teroris yang cepat meluas.

Belum hilang rasa kaget, sekitar pukul 07.15 WIB, ledakan bom berikutnya terdengar di Gereja Kristen Indonesia (KGI) di Jalan Diponegoro. Tak lama kemudian ledakan berikutnya terjadi di Gereja Pantekosta Pusat di Jalan Arjuna.

Akibat dari ulah teroris itu jumlah korban meninggal berjumlah 18 orang, terdiri dari 6 pelaku dan 12 dari masyarakat. Ditambah pada 1 Juni 2018 satu orang yang menderita bakar 90% akibat ledakan di gereja Pantekosta meninggal dunia.

Aksi ini dipimpin, Dita Oepriarto (48) sebagai ayah. Dita menjalankan aksi biadab ini bersama istrinya bernama Puji Kuswati (43), dua anak perempuannya yang berinisial FS (12) dan FR (9), serta dua anak laki-lakinya berinisial YF (18) dan FA (16). 

Aksi pertama dilakukan dua anak Dita YF (18) dan FA (16). Keduanya meledakkan diri di halaman gereja Santa Maria Tak Bercela.

Aksi kedua dilakukan Istri Dita, Puji Kuswati (43) dan kedua anaknya, yakni FS (12) dan FR (9), mereka meledakkan diri di GKI di Jalan Diponegoro Surabaya. Sedangkan Dita sendiri meledakkan diri di gereja Pantekosta pusat Surabaya di jalan Arjuno. (sbr/dtk)

Foto : by detik