Uang Saku Pelesiran Anak Buah Eri Cahyadi Disebut dari Uang Tabungan

Eri Cahyadi sudah menyeting agenda pelesir staf DCKTR Surabaya ke luar negeri dengan matang pada tahun 2016 silam. Jawaban kalau ada yang bertanya asal dana pelesir yang mencapai ratusan juta, sudah disiapkan. Izin khusus dari wali kota Tri Rismaharini pun sudah dikantongi.

”Sejak awal kami dibilangi kabid-kabid di dinas cipta karya, juga pak Eri, kalau ada yang tanya dari mana uang untuk liburan, jawab saja dari tabungan yang disisihkan dari tunjangan,” kata M, seorang anak buah Eri di DCKTR pada kurun 2013-2017 yang saat ini sudah pensiun sama seperti Eri.

”Namun, sebenarnya kami tidak membayar sepeser pun, karena uang yang digunakan untuk jalan-jalan ke luar negeri adalah setoran dari para pengusaha,” lanjutnya.

Tidak hanya liburan gratis, anak buah Eri juga mendapatkan uang saku. Jumlahnya lumayan besar. Untuk liburan ke Thailand, mereka mendapatkan jatah sekitar RP 2,5 juta.

”Uang saku dirupakan dalam bentuk dolar dan Baht,” ungkap M.

Uang saku itu bisa dihabiskan untuk jajan atau beli oleh-oleh selama di luar negeri. Sebab, kebutuhan makan dan akomodasi lainnya sudah masuk dalam paket tur.

Hal itu dibenarkan oleh Intan, karyawan Fullmoon Travel, biro perjalanan yang menjadi langganan Eri dan DCKTR. ”Pak Eri dan rombongan dinas biasanya mengambeil paket lengkap, hotel, pesawat, makan, dan transport lokal kami yang mengurus,” kata Intan dan tak lama kemudian menyerahkan kartu nama.

Untuk ngeles soal dana, meski sebenarnya vulgar, Eri bersama staf DCKRT masih bisa mengaku dari tabungan. Itu terpaksa harus dilakukan, karena tidak ada anggaran di Pemkot Surabaya untuk pelesir ke luar negeri.

Dan yang paling aneh sebenarnya adalah menutupi bagaimana DCKRT bisa mendapatkan izin khusus. Bisa liburan di hari Jumat dan Sabtu dengan diikuti seluruh karyawan. Sampai-sampai tidak ada satu pun staf di kantor. Pelayanan pun terhenti.

”Kami berangkat ke bandara Jumat sekitar jam 09.00, setelah absen di kantor. Setelah itu kantor kosong blong,” ungkap M.

M menyebutkan, staf DCKTR yang dipimpin Eri pada kurun 2013-2017 tidak mengalami kesulitan untuk mendapatkan izin dalam pelesiran sampai kantor kosong melompong.

”Pak Eri kan anak emas Bu Risma, apa yang beliau mau bisa dengan mudah dilakukan. Termasuk liburan ke luar negeri satu kantor di hari kerja. Dinas lain paling-paling liburannya ke Batu, itu pun di hari Minggu,” ungkap M.

M dan teman-temannya tentu saja senang bisa mendapatkan kesempatan liburan ke luar negeri. Gratis plus uang saku pula. Namun, mereka mengaku mengalami tekanan tersendiri dipimpin Eri. ”Sedikit saja dianggap tidak menyenangkan, siap-siap dikotak,” imbuh M.

Sebelumnya awak media sudah coba melakukan konfirmasi lewat telpon seluler hingga mendatangi langsung kediaman Eri di Perumahan Puri Kencana Karah. Namun belum mendapatkan respon. Selain itu awak media juga sudah meninggalkan beberapa nomor telpon agar bisa dihubungi balik dan diterima oleh asisten rumah tangga Eri yang bernama Nur.

Sumber