foto : hms/istimewa

RAJAWARTA : Hingga akhir Juni 2019, serapan pupuk subsidi di Kabupaten Probolinggo mencapai 41.613,53 ton. Dari jumlah tersebut terdiri dari pupuk urea sebanyak 21.908 ton, ZA sebanyak 10.129,05 ton, SP-36 sebanyak 2.504,60 ton, NPK sebanyak 5.893,40 ton dan organik sebanyak 1.178 ton.

Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Pertanian, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Pemkab Probolinggo, Bambang Suprayitno mengaku terus berupaya agar para petani tidak menggunakan pupuk kimia. Karena penggunaan itu akan berdampak negatif.

“Kami terus berupaya menumbuhkan kesadaran petani akan dampak negatif penggunaan pupuk kimia terhadap lingkungan. Sehingga harapannya ke depan mereka akan beralih menggunakan pupuk organik,” katanya.

Upaya Pemkab Probolinggo tersebut ungkap Bambang sesuai dengan Surat Keputusan (SK) Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur. Dalam SK tersebut pupuk subsidi mulai bulan Juni 2019 di Kabupaten Probolinggo sebanyak 83.039 ton. Rinciannya, pupuk urea sebanyak 43.442 ton, ZA sebanyak 19.973 ton, SP-36 sebanyak 4.065, NPK sebanyak 11.497 ton dan organik sebanyak 4.065 ton.

“Jumlah ini berkurang sebanyak 196 ton jika dibandingkan dengan alokasi awal tahun 2019 yang mencapai 83.235 ton. Rinciannya, Urea sebesar 43.492 ton, pupuk SP-36 sebesar 4.145 ton, pupuk ZA sebesar 20.039 ton, pupuk NPK sebesar 11.497 ton dan pupuk organik sebesar 4.062 ton,” jelasnya.

Dia menegaskan, pupuk subsidi dari Pemprov Jatim itu nantinya akan disalurkan ke semua kecamatan di Kabupaten Probolinggo.

“Yang menjadi pertimbangan dari pemberian alokasi pupuk bersubsidi ini antara lain data serapan realisasi pupuk bersubsidi mulai Januari 2019, kesesuaian data antara tim verifikasi kecamatan dengan distributor masing-masing produsen, RDKK (Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok) serta jenis komoditi dan luas lahan. Sehingga alokasi setiap kecamatan tidak sama,” jelasnya.

Pengurangan pupuk subsidi menurut Bambang sudah tepat karena pemupukan pemupukan yang berlebihan dan tidak berimbang. Apalagi petani masih fanatik kepada salah satu jenis pupuk dan tidak mau menggunakan jenis pupuk lain.“Kami mengharapkan agar para petani di Kabupaten Probolinggo bisa melakukan pemupukan berimbang mulai dari pupuk dasar dan tidak menimbun pupuk bersubsidi. Manfaatkan pupuk bersubsidi sebijak mungkin karena bagaimanapun kuantitasnya terbatas dan lebih memanfaatkan bahan organik untuk menyegarkan atau memulihkan kondisi lahan sehingga daya dukung lahan tersebut tetap terjaga,” pungkasnya. (wan)

Print Friendly, PDF & Email