SURABAYA – Sikap antikritik yang kerap ditunjukkan oleh sejumlah pemimpin di berbagai tingkatan mendapat sentilan keras dari Cak Sade Ketua Umum Sarana Demokrasi. Dalam pandangannya Cak Sade melontarkan kritik satir yang menohok bagi para pejabat yang alergi terhadap masukan masyarakat.
“Kalau jadi pemimpin tidak mau dikritik, mending jadi Tuhan saja. Hanya Tuhan yang maha sempurna. Kalau masih mau jadi manusia maka harus mau dikritik,” ujar Cak Sade.
Menurut Cak Sade, kritik adalah vitamin bagi sebuah kepemimpinan yang sehat. Pemimpin yang menutup telinga dari kritik, lanjutnya, sebenarnya sedang menggali kubur bagi legitimasinya sendiri. Ketika saluran aspirasi resmi disumbat, masyarakat akan mencari cara lain untuk bersuara, yang sering kali berujung pada ketidakstabilan sosial.
Pernyataan satir Cak Sade ini bukan tanpa dasar. Sebab menurutnya, hal tersebut sejalan dengan berbagai kajian ilmiah di bidang psikologi politik dan manajemen kepemimpinan. Berikut adalah beberapa teori dan data ilmiah yang mendukung mengapa sikap antikritik sangat berbahaya:
1. Hubris Syndrome (Sindrom Hubris)
Dalam studi psikologi kepemimpinan yang diinisiasi oleh David Owen dan Jonathan Davidson, terdapat istilah Hubris Syndrome. Ini adalah kondisi psikologis di mana seorang pemimpin yang terlalu lama berkuasa atau memiliki kekuasaan besar mulai kehilangan kontak dengan realitas.
Dampaknya: Mereka mengidentifikasi diri mereka dengan negara atau organisasi, menganggap pendapatnya selalu benar, dan melihat kritik sebagai bentuk makar atau serangan pribadi, bukan sebagai masukan.
2. Bahaya Groupthink (Pemikiran Kelompok)
Teori yang dicetuskan oleh psikolog Irving Janis ini menjelaskan fenomena di mana lingkaran dalam pemimpin (inner circle) hanya memberikan laporan yang menyenangkan demi menyenangkan atasan (yes-men culture).
Dampaknya: Pemimpin yang antikritik akan mematikan dinamika diskusi. Akibatnya, kebijakan yang diambil sering kali cacat karena tidak melalui uji publik atau perdebatan yang sehat.
3. The Dictator’s Trap (Jebakan Diktator)
Secara sosiopolitik, ilmuwan politik Brian Klaas dalam bukunya Corruptible: Who Gets Power and How It Changes Us menjelaskan bahwa pemimpin yang membungkam kritik akan terjebak dalam informasinya sendiri. Karena semua orang takut mengkritik, pemimpin tersebut tidak pernah tahu masalah yang sebenarnya terjadi di lapangan hingga semuanya terlambat.
Selain ilmuwan ungkap Cak Sade juga memberikan sejumlah tokoh dunia yang menentang Pemimpin anti Kritik:
Sejarah mencatat banyak pemimpin besar dan pemikir dunia yang justru menegaskan bahwa kritik adalah pilar utama dari kepemimpinan yang adil. Berikut beberapa di antaranya:
1. Nelson Mandela (Mantan Presiden Afrika Selatan)
Mandela adalah ikon demokrasi yang sangat menghargai perbedaan pendapat. Ia pernah menyatakan bahwa pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mau mendengarkan, terutama mendengarkan hal-hal yang tidak ingin mereka dengar. Bagi Mandela, membungkam kritik adalah ciri dari ketakutan dan kelemahan moral.
2. Thomas Jefferson (Presiden Ketiga Amerika Serikat)
Salah satu bapak pendiri AS ini sangat vokal melarang pemerintah membungkam kritik, khususnya melalui media massa. Jefferson pernah menulis:
“Jika saya harus memutuskan apakah kita harus memiliki pemerintah tanpa surat kabar (kritik), atau surat kabar tanpa pemerintah, saya tidak akan ragu untuk memilih yang terakhir.”
3. Winston Churchill (Mantan Perdana Menteri Inggris)
Meskipun dikenal sebagai pemimpin masa perang yang tegas, Churchill sangat menghormati kritik. Salah satu kutipannya yang terkenal mengenai hal ini adalah:
“Kritik mungkin tidak menyenangkan, tetapi itu perlu. Kritik memiliki fungsi yang sama seperti rasa sakit pada tubuh manusia: ia memanggil perhatian pada hal yang tidak sehat.”
4. Lee Kuan Yew (Bapak Pendiri Singapura)
Meski sering dikenal sebagai pemimpin yang pragmatis dan disiplin keras, dalam lanskap tata kelola pemerintahan moderen, Lee Kuan Yew menegaskan bahwa instansi pemerintah tidak boleh anti-kritik berbasis data. Ia selalu menekankan pentingnya meritokrasi dan transparansi sistem agar kebijakan publik bisa terus dikoreksi dan disempurnakan demi efektivitas negara.
Diakhir penjelasan Cak Sade mengatakan, betapa pentingnya kritik, utamanya pemimpin di Pemerintahan. Karena sejatinya Kritik baik untuk masa depan yang dipimpin. “Kritik itu penyempurna program Pemerintah,” tutupnya.













