RAJAWARTA : Pendemi Virus Corona yang menyerang Indonesia membuat Pemerintah Pusat hingga Pemerintah Daerah, termasuk Pemerintah Kota Surabaya (Pemkos) mengambil langkah cepat untuk mengantisipasi penyebaran virus yang berasal dari china.

Ini berita bagus : 7 bacakada Jatim dapat rekomendasi PDIP

Salah satu langkah Cepat yang diambil Pemkos adalah menyediakan bilik sterilisasi (BS) diberbagai tempat yang rentan menjadi tempat penyebaran virus corona. Namun, langkah cepat yang dilakukan Pemkos ini menuai kritik dari wakil rakyat dr Akmarawita Kadir. MKes., AIFO.

Video pilihan untuk Anda : Pak Menteri Tanggapi Penanganan covid 19 Kota Surabaya

Kepada rajawarta politisi Partai Golkar ini menjelaskan, bahwa bahan yang disemprotkan langsung kepada manusia via BS mengandung Bahan Benzalkonium Chloride (BAC), dan bahan tersebut bisa membahayakan kesehatan manusia.

Video Pilihan Untuk Anda : Jatim dan Surabaya saling Tuding Terkait Data covid 19

“Saya mendengar pemkot surabaya akan membuat dan memasang banyak alat bilik sterilisasi yang menggunakan bahan desinfektan, yaitu dengan menggunakan Benzalkonium Chloride,” ujarnya (30/3/20).

Bahkan Akma mengaku, mendapat informasi bahan yang digunakan mengandung Benzalkonium Chloride (BAC). Atas informasi tersebut, Akma meminta Pemkos mengkaji ulang penyediaan BS yang diduga bisa membahayakan kesehatan manusia.

“Dan juga ada yang bilang bahan yang menggunakan Benzalkonium Chloride (BAC) aman dan seterusnya, ini harus ditinjau kembali, karena banyak hal yang perlu dipertimbangkan,” jelas sekretaris Komisi D DPRD Yos Sudarso ini.

Permintaan Akma untuk mengkaji ulang penggunaan BS tersebut bukan tanpa alasan. Salah satu alasannya adalah BAC hanya bisa digunakan pada benda mati.

“Alasan Pertama bahan yang menggunakan BAC memang bisa digunakan pada benda-benda mati, seperti kursi, gagang pintu, dinding rumah, dan kandang hewan, tetapi disemprotkan pada manusia harus dipertimbangkan karena efeknya,” jelasnya.

“Bahan ini (BAC) bisa menyebabkan iritasi mukosa (saluran pernapasan, mata, luka), reaksi alergi, pada kulit bisa menyebabkan hiperplasia epitel bahkan ulkus (luka), pada penelitian dapat merangsang peradangan pada usus, dan menyebabkan kanker usus besar pada penggunaan kadar yang rendah,” ulasnya.

Akma mengakui, meski penggunaan/penelitian BAC masih dilakukan pada hewan namun hasil penelitian ilmiah ini sangat layak menjadi pertimbangan bagi Pemkos.

“Walaupun penelitian ini masih pada tikus, tetapi patut dipertimbangkan untuk tidak mengunakan bahan ini, dan menghindari bahan lain seperti klorin yang mempunyai efek yang merugikan manusia juga,” tukasnya.

Alasan berikutnya lanjut Akma, penggunaan BS dengan kandungan BAC belum bisa menjamin para penggunanya bisa steril.

“Alasan Kedua, Bilik Sterilisasi ini sebenarnya menurut saya, ketika sudah masuk ke dalam bilik dan keluar kita tidak pernah mencapai steril, kalau mau steril itu harus Zero kuman, jadi sifatnya mengurangi jumlah mikroorganisme patogen saja,” jelasnya.

Akma menyarankan, sebaiknya Pemkos mengganti dengan bahan lain yang sifatnya antiseptik dengan fungsi yang sama dan relatif lebih aman.

Alternatifnya jelas Akma, Pemkos mengganti BAC dengan sistem Ozon yang relatif aman jika digunakan/disemprotkan kepada manusia.

Ada sistem OZON, ini relatif lebih aman, karena kandungannya adalah air dengan teknik ozonisasi. “Ini juga bisa menjadi alternatif,” cetusnya.

Alternatif lain yang menurutnya paling aman adalah sering mengganti pakaian ketika keluar masuk kantor/tempat kerja/rumah. “Ya kita membawa 2 set pakaian ke kantor, nanti sampai di kantor kita mengganti pakaian. Karena pakaian kita dari rumah kan sudah dicuci dan sudah disetrika, pasti minim mikroorganisme patogen,” pungkasnya.