RAJAWARTA : Sangat sulit mengalahkan calon walikota Surabaya yang diusung PDI Perjuangan di Pilwali Surabaya, sebab Surabaya merupakan kandang banteng moncong putih. Sebutan bahwa Surabaya kandang PDIP sangat layak disandang oleh partai yang dipimpin Megawati Soekarnopoetri.

Ini berita bagus : 7 bacakada Jatim dapat rekomendasi PDIP

Alasannya cukup sederhana, tiga kali Pilwali yang berlangsung di Surabaya, para jago PDIP selalu menang mudah. Bagaimana di Pilwali 2020 ini? Menurut informasi yang diperoleh rajawarta, Calon dari PDIP bisa kalah di Pilwali Surabaya bila rekom PDIP tidak jatuh ke tangan yang tepat. Apalagi beberapa calon dari PDIP saat ini seperti berjalan di jembatan sirotol mustakim karena memiliki rekam jejak yang bisa ‘ditiknokan’.

Video pilihan untuk Anda : Pak Menteri Tanggapi Penanganan covid 19 Kota Surabaya

Kabar tersebut disampaikan politisi senior PDIP Kota Surabaya, Saleh Ismail Mukadar (SIM) kepada rajawarta beberapa waktu lalu. Menurutnya, di Pilwali kali ini PDIP Kota Surabaya seperti raksasa yang sedang ganti kulit. Artinya, PDIP tidak memiliki Jago yang kuat seperti di Pilwali sebelumnya (Bambang DH dan Risma).

Video Pilihan Untuk Anda : Jatim dan Surabaya saling Tuding Terkait Data covid 19

Apalagi belakangan ini SIM mendengar kabar bahwa beberapa calon yang maju via PDIP di Pilwali Surabaya sama-sama memiliki rekam jejak yang bisa menjadi senjata makan tuan. “Saya tidak menyebut namanya ya, tidak enak. Ada orang mengatakan nanti yang lain-lain kita Tiknokan,” tukas SIM dua hari lalu kepada rajawarta.

SIM menjelaskan apa yang dimaksud dengan ditiknokan. Kala itu jelas SIM, pada waktu pencalonan Bambang DH (BDH) beberapa tahun lalu. Sebenarnya rekom PDIP turun ke Tikno. Namun karena alm Cak Narto mendatangi Sekjen PDIP dan mengatakan bahwa Tikno pernah bermasalah dan pernah divonis dalam sebuah kasus. Akhirnya, BDH dipasangkan dengan Cak Narto.

“Mas Cip, saya tahu kelemahannya (Tikno) saya bisa jatuhkan lo. Sudahlah pasangkan aku dengan dik Bambang,” begitu secuil ucapan SIM mengutip ucapan Cak Narto.

Atas dasar ‘ancaman’ Cak Narto tersebut, akhirnya rekom PDIP dari sebelumnya Tikno dan pasangannya berubah menjadi Cak Narto-BDH.

SIM lalu menambahkan apa yang terjadi pada Tikno beberapa tahun lalu itu bisa terjadi di Pilwali 2020. Sebab tuturnya beberapa calon yang maju via PDIP memiliki rekam jejak yang bisa ditiknokan.

Untuk itu ungkap SIM Partai harus memberikan rekom PDIP kepada bacawali yang tidak bisa ditiknokan dan bisa menjaga keutuhan suara Partai. “Solusinya Mbak Puti,” cetus SIM mengakhiri wawancara.

Untuk lebih jelasnya silahkan simak pernyataan Saleh Mukadar yang direkam rajawarta dalam video di bawah ini :