SURABAYA — Krisis hunian terjangkau di Kota Surabaya kian mengkhawatirkan. Ketua Komisi A DPRD Kota Surabaya, Yona Bagus Widyatmoko, mendorong solusi inovatif berupa pembangunan rumah susun (rusun) yang terintegrasi dengan fungsi pasar tradisional, menyusul antrean panjang calon penghuni rusunawa yang mencapai lebih dari 14.000 orang.
“Dengan ketersediaan hanya 5.233 unit di 23 rusunawa yang ada, kebutuhan hunian vertikal saat ini sudah sangat mendesak. Kita tidak bisa lagi menggunakan pola pembangunan konvensional,” ujar Yona, yang akrab disapa Cak Yebe, dalam rapat Panitia Khusus Hunian Layak di Gedung DPRD Kota Surabaya, Kamis (10/7/2025).
Gagasan ini muncul setelah DPRD melakukan kunjungan kerja ke Jakarta, meninjau langsung proyek Pasar Rumput—sebuah rusunawa modern yang menggabungkan fungsi pasar di tiga lantai bawah dengan 1.984 unit hunian di atasnya.
“Model Pasar Rumput itu inspiratif. Konsep terpadu seperti ini bisa diterapkan di Surabaya, apalagi banyak pasar tradisional kita yang butuh revitalisasi,” kata politisi Gerindra ini.
Menurutnya, sejumlah pasar seperti Pasar Keputran, Pasar Tambakrejo, dan Pasar Wonokromo memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi pusat ekonomi sekaligus kawasan hunian vertikal. Ia mencontohkan Pasar Tambakrejo yang telah disulap menjadi area terpadu bersama Kaza Mall dan Hotel Palm Park.
“Kalau ini kita kembangkan, otomatis penghuni rusun bisa menjadi konsumen tetap. Pasar menjadi hidup, dan sisi ekonomi berjalan beriringan dengan kebutuhan sosial,” tambahnya.
Cak Yebe juga menyoroti semakin sempitnya lahan di tengah kota. Karena itu, pembangunan vertikal dengan mengoptimalkan aset pasar tradisional dianggap sebagai solusi efisien dalam mewujudkan kota padat yang terintegrasi.
“Revitalisasi Pasar Keputran dengan konsep rusunawa di atasnya bisa menjadi proyek percontohan yang konkret,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, swasta, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya. Komisi A DPRD, menurutnya, telah menggandeng pihak swasta seperti REI, Apersi, dan YKP untuk menjajaki kolaborasi pembangunan hunian rakyat.
“Pak Wali Kota sendiri sudah bilang, Surabaya tidak bisa dibangun sendirian. Kita perlu gotong-royong. Karena itu, Pansus telah mengundang pengembang lokal untuk berdiskusi,” terangnya.
Ia juga menyinggung soal keterbukaan informasi dari pemerintah kota sebagai kunci agar pengembang dapat berkontribusi aktif dalam program perumahan.
“Kita ingin Pemkot memberi ruang dan transparansi. Kalau itu bisa dilakukan, pengembang lokal pasti akan tertarik ikut ambil bagian,” tegasnya.
Tak hanya soal teknis pembangunan, Cak Yebe juga menggarisbawahi pentingnya peran media dalam menyosialisasikan program-program strategis milik Pemkot. Menurutnya, publikasi yang tepat dapat meningkatkan dukungan publik dan percepatan realisasi proyek.
“Seringkali program sudah bagus, tapi gaungnya kurang terdengar. Jurnalis perlu dilibatkan lebih aktif untuk menyuarakan potensi aset dan proyek-proyek Pemkot,” pungkasnya.













