UMUM  

Ironi Kota Surabaya; Tegas Terhadap PKL Tapi Melempem Hadapi Penelantar Penjara Kalisosok?

SURABAYA : Pemerintah Kota Surabaya di bawah kepemimpinan Wali Kota Eri Cahyadi dinilai tebang pilih dalam menegakkan aturan di ruang publik. Di satu sisi, ketegangan dan ketegasan kerap dipertontonkan saat menertibkan para pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan di atas trotoar Jalan berbagai titik PKL. Namun di sisi lain, taring pemerintah seolah tumpul saat berhadapan dengan pihak yang menelantarkan aset cagar budaya raksasa di tengah kota: eks Penjara Kalisosok.

Kontras penegakan hukum ini menuai sorotan tajam. Kawasan Kota Lama Surabaya saat ini telah bersolek menjadi destinasi wisata sejarah yang estetik dan tertata rapi. Hampir seluruh pengelola gedung tua di kawasan tersebut bersedia berkolaborasi mendukung program revitalisasi. Ironisnya, tepat di jantung kawasan tersebut, kompleks eks Penjara Kalisosok justru berdiri merana seperti hutan belukar yang terbengkalai.

Hingga tahun 2026 ini, tercatat sudah 36 tahun kompleks penjara legendaris itu kosong dan telantar sejak fungsinya dipindahkan ke Medaeng pada tahun 1990. Penelantaran ini tidak hanya membiarkan alam merusak struktur bangunan, tetapi juga memberi ruang bagi tindakan kriminal. Pada tahun 2021 lalu, jagat maya sempat dihebohkan oleh aksi penjebolan tembok sisi selatan penjara secara ilegal untuk membangun petak-petak kamar kos. Kendati kasus perusakan cagar budaya ini sempat viral, kelanjutan penindakan hukumnya seolah lenyap ditelan bumi.

Belajar dari Transformasi Wisata Dunia

Sikap abai terhadap eks Penjara Kalisosok sangat disayangkan, mengingat situs ini memiliki otentisitas arsitektur yang jauh lebih utuh dibandingkan eks Penjara Koblen. Kalisosok masih mempertahankan tata ruang asli, blok-blok sel tahanan yang kokoh, hingga tembok berlapis yang bernilai sejarah tinggi.

Di kancah internasional, situs penjara menyeramkan dengan reputasi ketat justru sukses diubah menjadi ladang ekonomi kreatif dan destinasi wisata edukasi unggulan, seperti:

  1. Pulau Alcatraz (Amerika Serikat): Mantan penjara federal paling ditakuti di San Francisco yang pernah mengurung gembong mafia legendaris Al Capone. Kini, Alcatraz bertransformasi menjadi magnet wisata dunia yang menawarkan tur edukasi interaktif menggunakan panduan audio di dalam sel-sel aslinya.
  2. Oxford Castle (Inggris): Kastil sekaligus penjara yang dibangun sejak tahun 1071 dan sempat digunakan Raja Charles untuk mengurung para pemberontak. Setelah ditutup pada 1996, situs ini direstorasi secara masif pada 2004, dilengkapi fasilitas restoran dan galeri seni, tanpa menghilangkan atmosfer historis ruang bawah tanahnya yang mencekam.

Gugatan Komitmen Kepala Daerah

Eks Penjara Kalisosok bukan sekadar tumpukan batu bata kuno. Tempat ini adalah ruang sakral yang pernah mengurung deretan tokoh pergerakan sekaligus pahlawan nasional bangsa, mulai dari Soekarno, HOS Tjokroaminoto, KH Mas Mansyur, hingga pencipta lagu kebangsaan WR Soepratman. Membiarkan tempat ini hancur sama saja dengan mengikis memori perjuangan para pendiri bangsa.

Tindakan pembiaran cagar budaya hingga rusak secara hukum merupakan pelanggaran pidana yang diatur dalam undang-undang. Oleh karena itu, publik kini mempertanyakan komitmen Wali Kota Surabaya. Mengapa energi besar dan ketegasan aparat begitu mudah dikerahkan untuk melakukan inspeksi mendadak (sidak) serta menggusur para pedagang kecil di trotoar Kedungdoro, namun pemerintah justru tampak tak berdaya menghadapi pihak swasta atau pengelola yang menelantarkan bangunan bersejarah sedahsyat Kalisosok?

Sudah saatnya Pemerintah Kota Surabaya menunjukkan taringnya secara adil. Menertibkan penelantar cagar budaya di Kalisosok bukan hanya soal menyelamatkan estetika kawasan Kota Lama, melainkan tentang penegakkan supremasi hukum dan penyelamatan warisan sejarah bangsa agar tidak lenyap oleh keserakahan dan kelalaian.