RAJAWARTA : Munculnya banner/baliho Risma-Eri diberbagai tempat digambarkan oleh Arief Fathoni politisi Partai Golkar sebagai simbol terbongkarnya rahasia ketidakharmonisan Walikota Surabaya Tri Rismaharini or Risma dengan Wakil Walikota Surabaya Whisnu Sakti Buana.

Menariknya, rahasia yang selama ini berusaha ditutup-tutupi oleh kedua tokoh papan atas di Kota Surabaya dipublis oleh oknum yang mengatasnamakan Pemkot Surabaya melalui sebuah Banner dengan gambar Walikota Surabaya dan Kepala Bappeko (Eri Cahyadi).

“Akhirnya publik mulai bertanya-tanya bahwa rahasia umum yang selama ini terjadi di Pemkot mengenai hubungan yang kurang harmonis antara Walikota dan wakil walikota, ya publik akhirnya bisa membenarkan, oh ternyata benar terjadi disharmonisasi antara Walikota dan wakilnya,” ujarnya (14/11).

Ketua Fraksi Partai Golkar, DPRD Yos Sudarso menjelaskan alasan yang cukup sederhana, kenapa dirinya bisa meraba-raba bahwa telah terjadi disharmonisasi antara Walikota dan Wakilnya. Jawabannya, munculnya banner Risma-Eri.

“Karena apa? Karena di baliho tersebut tidak ada foto Wakil Walikota. Nah, padahal kalau kita melihat sosialisasi program Kabupaten/kota yang lain pasti menampilkan Bupati-Wakil Bupati atau Sekda. Nah, ini (banner Risma-Eri) Walikota dan Kepala Bappeko menurut saya, ya kurang pas,” tukasnya.

Apalagi tuturnya, saat ini Bursa Pilwali kota Surabaya sudah mulai ramai dibicarakan, bahkan beberapa tokoh mulai sibuk sosialisasi ke bawah, maka munculnya Banner tersebut akan sulit sekali dipisahkan dari kepentingan politik. “Orang kemudian, susah untuk tidak mengkaitkan ini dengan kepentingan Pilwali tahun depan,” ujarnya.

Satpol PP membongkor Baliho Risma-Eri

Viralnya Banner Risma-Eri mengajak Arief Fathoni berselancar menuju sidang Paripurna yang digelar beberapa waktu lalu. Kala itu Fraksi Partai Golkar, Fraksi PKB, dan Fraksi Demokrat-Nasdem menumpahkan rasa worriednya ke dalam Pandangan Umum (PU) Fraksi. Dalam PU tersebut, utamanya Fraksi Golkar mengingatkan Walikota Surabaya agar diakhir masa jabatannya APBD tidak disalahkangunakan untuk kepentingan politik.

“Sekarang ketika kami mengingat, menagih komitmen Bu Risma agar menjaga kemurnian APBD tidak digunakan kepentingan kontestasi. Ini sebenarnya, kita mengingatkan Wali agar kepentingan politik tidak mengalahkan urusan pemerintahan,” tukasnya.

Belum satu bulan PU Fraksi Golkar dibacakan dan ditanggapi oleh Walikota disidang Paripurna, DPRD Yos Sudarso. Tiba-tiba viral banner Risma-Eri yang belum diketahui siapa pemasangnya.

“Yah, dari aspek, eeee Pemerintah apa yang dikhawatirkan oleh fraksi-fraksi dalam pandangan akhir atau pandangan umumnya itu, kalau banner itu dipasang oleh Pemkot Surabaya, maka apa menjadi kekhawatiran kami, terbukti,” kata Arief Fathoni.

Terbukti? Iya terbukti tegasya, kalau anggaran pemasangan Banner tersebut bersumber dari APBD. Tapi kalau banner itu dipasang simpatisan (anggaran non APBD) maka itu, sah-sah saja, meski menurutnya tetap saja melanggar azas kepantasan.

“Karena kalau itu bersumber dari Pemkot untuk mensosialisasikan capaian program, mestinya foto yang dipasang foto walikota dan wakilnya. Nah, kalau kemudian program sosialisasi itu memasang foto Walikota dengan kepala Bappeko, menurut saya tidak elok dan tidak pantas,” jelasnya. ($$$)

Berikut Link Bantahan Kepala Bappeko, Eri Cahyadi : GAMBAR RISMA-ERI BERTEBARAN, KEPALA BAPPEKO : NGGAK ADA

Print Friendly, PDF & Email