Jokowi di atas angin. Elektabilitas atau tingkat keterpilihannya bersama Ma’ruf Amin dalam Pilpres 2019 masih mengungguli Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Ini berita bagus : 7 bacakada Jatim dapat rekomendasi PDIP

Dalam hasil survei yang dilakukan tujuh lembaga, rata-rata selisih elektabilitas antara Jokowi-Ma’ruf Amin dan Prabowo-Sandi per Februari 2019 terpaut sekitar 20 persen. Apakah selisih tersebut akan stabil hingga hari H pencoblosan pada 17 April 2019?

Video pilihan untuk Anda : Pak Menteri Tanggapi Penanganan covid 19 Kota Surabaya

Peneliti Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Adjie Alfaraby menilai, selisih elektabilitas antara pasangan calon nomor urut 01 dan 02 akan cenderung stabil hingga hari pemungutan suara. Namun, untuk angka elektabilitas dimungkinkan fluktuatif.

Video Pilihan Untuk Anda : Jatim dan Surabaya saling Tuding Terkait Data covid 19

“Kalau selisihnya, sejak survei LSI pada Agustus 2018 hingga Februari 2019 stabil. Jadi kalau angkanya (elektabilitas) masih dinamis, tapi selisihnya cenderung stabil kurag lebih 20 persen,” kata Adjie saat dihubungi Liputan6.com, Rabu (6/3/2019).

Dalam survei terakhir LSI pada Februari 2019 dengan menggunakan contoh surat suara, Jokowi-Ma’ruf Amin mendapatkan elektabilitas sebesar 58,7 persen. Sedangkan Prabowo-Sandiaga 30,9 persen dan pemilih yang belum menentukan pilihan sebesar 9,9 persen.

Meski begitu, sambung dia, tetap ada beberapa faktor yang akan memengaruhi hasil Pilpres 2019 nanti berbeda dengan survei. Faktor partisipasi pemilih ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) pada 17 April nanti akan sangat berpangaruh.

“Kalau hari ini sampai hari H, faktor yang mempengaruhi elektabilitas terkait dengan isu dan apa yang dikerjakan tim kampanye. Untuk hari H pencoblosan, faktornya sangat tergantung dari tim pasanagan calon apakah bisa memobilisasi pemilih ke TPS atau tidak untuk mengonversi hasil survei menjadi pemilih riil,” ujar Adjie.

Ia juga menyatakan, keunggulan sekitar 20 persen belum aman untuk Jokowi.

Senada, Direktur Riset PolMark Eko Bambang Subiantoro pun menilai, elektabilitas Jokowi yang masih mengungguli Prabowo belum berada di zona aman. Meski dalam hasil survei PolMark di 73 dapil pada Februari 2019 menunjukkan elektabilitas Jokowi-Ma’ruf 40,4 persen, dan Prabowo-Sandiaga 25,8 persen.

“Karena masih ada yang belum menentukan pilihan atau undecided voters sekitar 33,8 persen,” ujar Eko kepada Liputan6.com

Bila undecided voters tersebut ternyata memilih Prabowo pada 17 April, jelas dia, maka pasangan nomor 02 itu akan unggul 59,6 persen. “Tapi kecenderungannya, biasanya mereka (undecided voters) akan tersebar ke dua kubu, tidak akan full ke salah satunya.”

Menurut Eko, elektabilitas Jokowi 40,4 persen itu memang besar, tapi bukan angka yang maksimal. Sehingga perlu jadi alarm karena masih ada risiko terkejar Prabowo.

Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Amin, Abdul Kadir Karding menyatakan, saat ini pihaknya masih berusaha terus menambah kemenangan dengan menjaga yang sudah ada dan menambah yang belum. Fokus utamanya untuk meraih suara swing voter di seluruh daerah Indonesia.

“Kita akan fokus di titik-titik tertentu yang memang menjadi sasaran kita. Titik-titik yang selama ini menjadi konsentrasi kita adalah wilayah Jawa Barat, Banten, sebagian Sumatera dan Indonesia Timur sebagian. Kalau di sisi umur pemilih, tentu umur-umur generasi X (milenial) perlu kita genjot lagi, dan masyarakat terpelajar,” beber politikus PKB ini.

Karding mengaku, pihaknya percaya dalam waktu dekat elektabilitas Jokowi-Ma’ruf Amin terus meningkat. Kami merasakan gerakan-gerakan di bawah mulai gencar dan masif. Untuk itu, semoga tidak ada sesuatu yang mengganjal ke depan dan kita harus mengatur dosis langkah-langkah pemenangan,” Karding memungkasi.

Terpisah, Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga, Priyo Budi Santoso menyatakan, pihaknya telah memetakan beberapa lembaga survei yang diduga menjadi bagian dari tim kampanye kubu lawan. Perintah kepada seluruh lini mesin pemenangan untuk mengabaikan segala bentuk kampanye lewat lembaga survei partisan pun telah dikeluarkan.

“Tetapi cukup dibaca (hasil surveinya) sambil tersenyum,” ucap dia.

Priyo mengaku, kubunya memiliki survei investigatif yang dilakukan secara berkala oleh lembaga yang kredibel. Survei internal itu dilakukan untuk menakar dan mendalami tanda-tanda perubahan politik.

“Termasuk di Jawa yang merupakan pusat dari pertarungan dan demokrasi itu. Di Jawa kemarin lebih dikuasai kubu 01, tapi hari ini merangkak kami naik, sementara posisi Pak Jokowi menurun dari hasil survei kami. Sekarang posisi elektabiltasi Jokowi-Ma’ruf ada di posisi rawan dalam posisi sebagai petahana,” ungkap Priyo.

Tetapi, sambung dia, pihaknya belum cepat puas hati meski tren elektabilitas naik. “Selisihnya mendekati, tinggal 1 digit,” pungkas politikus Partai Berkarya ini. Hasil Survei 7 Lembaga

1. LSI Denny JA

Elektabilitas pasangan calon presiden nomor urut 01 Jokowi-Ma’ruf Amin masih unggul dari pasangan calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dalam survei terbaruLingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA pada Februari 2019. Selisih tingkat keterpilihan Jokowi dengan Prabowo berkisar 27,8 persen.

Pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin mendapatkan elektabilitas sebesar 58,7 persen. Sedangkan Prabowo-Sandiaga 30,9 persen.

“Jokowi-Amin tetap unggul, dengan selisih tetap sekitar 20%,” ujar peneliti LSI Ardian Sopa di kantornya, Rawamangun, Jakarta Timur, Selasa 5 Maret 2019.

Pemilih yang belum menentukan pilihan sebesar 9,9 persen. Namun, besaran dukungan kepada kedua pasangan calon dan pemilih mengambang belum 100 persen lantaran LSI menambahkan suara tidak sah.

“LSI mencoba memotret secara lebih akurat, dengan menggunakan simulasi menyodorkan kertas suara dalam kegiatan survei. Hasilnya, suara tidak sah tercatat sebesar 0,5 persen,” jelas Ardian.

Sementara, dilihat dari tren elektabilitas tiga bulan terakhir, Jokowi-Ma’ruf cenderung mengalami peningkatan. Dibandingkan Prabowo-Sandiaga yang angkanya cenderung stagnan.

Pada Desember 2018, Jokowi-Ma’ruf memiliki elektabilitas 54,2 persen. Angka itu naik 54,8 persen pada Januari 2019. Sampai naik sekitar 3,9 persen, atau menjadi 58,7 persen pada Februari 2019.

Prabowo-Sandiaga stagnan di kisaran 30 persen. Pada Desember 2019 sebesar 30,6 persen. Januari 2019, 31 persen. Sampai Februari 2019, 30,9 persen.

Survei elektabilitas capres-cawapres ini menggunakan simulasi surat suara. Besaran responden 1.200 yang diwawancarai tatap muka dalam rentang waktu 18-25 Februari 2019. Survei menggunakan metode multistage random sampling dengan margin of error plus minus 2,9 persen.

2. Cyrus Network

Lembaga Survei Cyrus Network merilis hasil survei elektabilitas antara pasangan calon nomor urut 01 Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan pasangan calon nomor urut 02 Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno.

Dalam simulasi surat suara, elektabilitas Jokowi-Ma’ruf 57,5 persen dan Prabowo-Sandi 37,2 persen. Responden yang belum memutuskan 3,7 persen dan yang tidak menjawab 1,6 persen. Selisihnya 20,3 persen.

Sementara itu, sebanyak 77,5 persen responden telah menetapkan pilihannya dalam Pemilu 2019. Hal tersebut terdiri dari 47,8 persen pemilih tetap Jokowi dan 29,7 persen pemilih tetap Prabowo. Hasan mengatakan, hal ini membuat tingkat kepastian pemilih memilih Jokowi lebih tinggi dibanding Prabowo.

Survei dilakukan pada 18 Januari hingga 23 Januari 2019, atau tepatnya usai penyelenggaraan debat perdana pada 17 Januari. Survei dilakukan menggunakan sistem multistage random sampling dan menggunakan wawancara tatap muka.

Jumlah responden yang dilibatkan 1.230 orang di 34 provinsi. Margin of error survei +/- 3 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

3. Charta Politika

Hasil survei Charta Politika pada Januari 2019 menunjukkan elektabilitas Jokowi-Ma’ruf Amin unggul dari Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Elektabilitas pasangan nomor 01 dan 02 terpaut 19,1 persen. 

Elektabilitas Jokowi-Ma’ruf sebesar 53,2 persen dan Prabowo-Sandiaga 34,1 persen.

Direktur Eksekutif Charta Politika, Yunarto Wijaya di kantor Charta Politika, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, bilang, elektabilitas kedua pasangan ini relatif stagnan karena kemantapan dari pemilih yang loyal, sudah besar.

“Ada pola kecenderungan stagnan dari kedua kandidat di dua bulan terakhir ini,” kata Yunarto, Rabu (16/1/2019).

Survei ini digelar sejak 22 Desember 2018 – 2 Januari 2019 dengan 2.000 responden. Metode yang digunakan adalah wawancara tatap muka dengan kuisioner terstruktur. Margin of error-nya 2,19 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.

4. Survei Polmark

Hasil survei yang dirilis lembaga survei Polmark menyatakan, Jokowi-Ma’ruf dalam kondisi tidak aman. Berdasarkan survei yang dilakukan di 73 daerah pemilihan (dapil) se-Indonesia, Jokowi unggul 14,6 persen.

Jokowi-Ma’ruf meraih 40,4 persen. Sementara Prabowo-Sandiaga meraih 25,8 persen. “Sementara sisanya, sekitar 33,8 persen belum menentukan pilihan atau undecided voters,” kata Eep Saefulloh Fatah, Founder dan CEO Polmark Indonesia, Selasa 5 Maret 2019.

Walau unggul, elektabilitas Jokowi belum terbilang aman sebab tak selazimnya, seorang petahana atau Jokowi memiliki elektabilitas di bawah 50 persen. Eep menjelaskan, survei yang dilakukan Polmark dilakukan di 73 dapil se-Indonesia melalui 73 survei berbeda, sejak Oktober 2018 hingga Februari 2019.

Di tiap surveinya untuk tiap dapil, survei melibatkan 440 orang. Sementara khusus untuk Jabar 3, melibatkan 880 orang.

Menggunakan metode multistage random sampling, survei ini memiliki margin of error sekitar 4,8 persen serta tingkat kepercayaan mencapai 95 persen.

5. Survei Populi Center

Survei Populi Center juga menunjukkan Jokowi-Ma’ruf unggul dari Prabowo-Sandiaga. Selisih keduanya terpaut 23,1 persen.

Survei ini menunjukkan, elektabilitas Jokowi-Ma’ruf sebesar 54,1 persen, sedangkan Prabowo-Sandi 31,0 persen. Adapun yang tidak menjawab sebesar 14,9 persen.

“Hasil ini relatif sama dengan temuan survei pada bulan-bulan sebelumnya,” kata peneliti Populi Center, Dimas Ramadhan saat merilis hasil survei di Jakarta, Kamis 7 Februari 2019.

Survei ini dilakukan pascadebat pertama pilpres 2019, yakni 20-27 Januari 2019, dengan metode wawancara tatap muka.

Besaran sampel adalah 1.486 responden, dipilih secara acak bertingkat atau multistage random sampling. Margin of error survei ini plus minus 2,53 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

6. Survei Median

Media Survei Nasional (Median) merilis hasil survei elektabilitas dua pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden yang bertarung di Pilpres 2019. Hasilnya, pasangan Jokowi-Ma’ruf meraih 47,9 persen, sedangkan Prabowo-Sandiaga 38,7 persen. Jarak antarkedua pasangan ini hanya sekitar 9,2 persen.

Pada survei November 2018 lalu, suara Jokowi-Ma’ruf 47,7 persen. Jika dibandingkan sekarang, hanya naik 0,2 persen. Sedangkan Prabowo-Sandiaga di November 2019, 35,5 persen atau naik 3,7 persen dari survei terbaru.

Survei dilakukan 6-15 Januari 2019 dengan 1.500 responden yang tersebar di semua provinsi. Margin of error +- 2,5 persen.

Metodologi survei Pilpres 2019 yang digunakan adalah multistage random sampling dan proporsional.

7. Survei CRC

Lembaga survei Celebes Research Center (CRC) mengatakan elektabilitas Capres-Cawapres Jokowi-Ma’ruf Amin masih unggul dibandingkan dengan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Elektabilitas Jokowi-Ma’ruf Amin mencapai 56,1 persen, pasangan 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno 31,7 persen, dan yang tidak tahu atau tidak menjawab 12,2 persen. Selisih keduanya cukup jauh, 24,4 persen.

Survei dilakukan pada 23-31 Januari 2019, dengan 1.200 responden. Dengan metode penarikan sampel multistage random sampling dan memiliki toleransi kesalahan dugaan +/- 2,83 persen pada selang kepercayaan 95.0 persen.