suarasurabaya

RAJAWARTA : Untuk memacu penulis-penulis berbakat Dewan Kesenian Surabaya (DKS) melalui program Majelis Sastra Urban menggelar lomba menulis cerita pendek (cerpen) tingkat nasional. Pihak panitia menyiapkan hadiah pemenang lomba  senilai R p20 juta.

Ini berita bagus : 7 bacakada Jatim dapat rekomendasi PDIP

Dalam keterangannya, kepada pewarta, Chrisman Hadi Ketua Umum DKS mengatakan, lomba menulis cerpen ini mendatang juri level nasional, Budi Darma, Begawan Cerpen.

Video pilihan untuk Anda : Pak Menteri Tanggapi Penanganan covid 19 Kota Surabaya

“Anggota juri terdiri dari Mashuri, staf ahli Balai Bahasa Jawa Timur yang pernah menjuarai Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta, serta Bramantio, dosen Universitas Airlangga yang pernah memenangi lomba kritik sastra Dewan Kesenian Jakarta,” ujarnya kepada wartawan di Surabaya, Jumat (4/10/2019).

Video Pilihan Untuk Anda : Jatim dan Surabaya saling Tuding Terkait Data covid 19

Dari lomba tersebut, ungkap Chrisman, 16 karya terbaik akan dibukukan yang dijadwalkan “launching” tanggal 15 Desember 2019, bersamaan dengan pengumuman pemenang lomba. “Penerimaan naskah lomba dimulai bulan Oktober 2019 hingga 10 November 2019,” ujarnya.

Menurut Chrisman, semangat dari lomba Cerpen ini adalah untuk merangsang penulis-penulis berbakat untuk menghasilkan karya cerpen yang bermutu.

“Tema lomba adalah Urbanhype. Kita ingin menemukan teks-teks sastra masa depan. Sekaligus mewadahi geliat sastra milenial. Termasuk pula mewadahi jejaring sastra Surabaya dan nasional,” tuturnya.

Sementara, Ribut Wijoto Ketua Panitia Lomba Cerpen DKS mengatakan, lomba menulis cerpen ini memilih  tema Urbanhype. Menurutnya, tema tersebut dinilai representatif dengan hal-hal yang akrab dan bersifat kekinian.

Urbanhype ini gabungan kata urban dan hype yang menawarkan interpretasi luas dan segar untuk penulisan teks sastra khususnya cerpen,” Ribut, menjelaskan.

Nanda A Rahmah Sekretaris sekaligus salah satu konseptor Lomba Cerpen DKS, menambahkan bahwa urbanhype sangat melekat pada generasi milenial.

“Generasi di atas mereka, mungkin juga termasuk saya, akan menemukan hambatan untuk menjawabnya dengan sudut pandang yang persis sama. Karena itu tema ini sangat jelas segmentasi dan visinya, yaitu generasi 4.0 . Merekalah subjek urban hari ini, pemegang label-label hype itu,” ujarnya. (ant/ss)