RAJAWARTA : Dunia pendidikan Kota Surabaya di era kepemimpinan Tri Rismaharini or Risma, Walikota Surabaya tidak sewow jika dibanding raihan prestasi Risma di bidang yang lain. Pasalnya, khusus dunia pendidikan, Prestasi pelajar Kota Surabaya belum bisa berbicara banyak baik dalam negeri maupun di luar negeri.

Ini berita bagus : 7 bacakada Jatim dapat rekomendasi PDIP

Hal itu diungkap Isa Ansori Pengamat Dunia pendidikan kepada rajawarta. Menurutnya, selama kepemimpinan Risma dunia pendidikan di Kota Surabaya plus minus.

Video pilihan untuk Anda : Pak Menteri Tanggapi Penanganan covid 19 Kota Surabaya

“Kalau dari sisi pembangunan gedung, sarana dan prasarana terjadi perubahan yang pesat. Banyak gedung-gedung SD dan SMP yang tidak layak kemudian direhap. Sekarang kita kita lihat sekolah-sekolah di Surabaya cukup luar biasa perkembangannya,” jelas Isa dua hari lalu kepada rajawarta.

Video Pilihan Untuk Anda : Jatim dan Surabaya saling Tuding Terkait Data covid 19

Sedangkan dari prestasi pelajarnya, tutur Isa, dengan parameter UN, maka sebenarnya prestasi pelajar SD dan SMP belum bisa dibanggakan jika dibanding dengan besarnya anggaran pendidikan.

“Dari sisi kualitas saya kira tidak terlalu signifikan jika dibanding dengan anggaran yang ada. Kalau kita bicara prestasi, maka Surabaya belum pernah menjadi juara 1 di seluruh kota/kabupaten Jawa Timur,” ucapnya.

Isa melanjutkan, penyebab dari kalahnya pelajar Surabaya dengan daerah lain di Jawa Timur salah satu faktornya adalah antara beleid dan inplementasi tidak sejajar. Sehingga yang terjadi pengekangan terhadap kreativitas guru.

“Saya melihat ada gab antara kebijakan dan implementasi. Misalkan, kebijakan dinas pendidikan yang kemudian mengekang kreatifitas guru. Kalau kita melihat di surabaya. Guru itu tidak melakukan apa-apa. Kalau melakukan salah, dan kalau tidak melakukan tambah salah lagi,” tukasnya.

Oleh karena itu Isa menaruh Asa kepada kepala dinas pendidikan agar bisa mendorong guru-guru di Surabaya untuk mengasah kreatifitasnya. “Kenapa, Anak-anak itu kan butuh guru yang krearif bukan guru yang stagnan,” cetusnya.

Isa tidak menampik kalau Pemerintah melalui dinas pendidikan telah melakukan pembenahan terhadap guru. Sayangnya, pemerintah tidak pernah mengatahui kebutuhan guru yang sebenarnya.

“Untuk perbaikan guru sifatnya case kan. Dan itu sifatnya normatif bukan pada level apa yang dibutuhkan guru. Problem kita adalah kita tidak pernah punya data tentang apa yang dibutuhkan guru,” ujarnya.

Lebih mantab lagi kalau video di bawah ini Anda ikuti, biar nggak gagal paham :