RAJAWARTA : Langkah Pemerintah Kota Surabaya (Pemkos) dalam mengantisipasi penyebaran virus corona menuai banyak apresiasi, misalnya pemasangan bilik sterilisasi di berbagai tempat.

Simak video : Keluarga Pasien akan Menggugat Rumah Sakit RKZ Surabaya

Tapi juga tidak sedikit yang mempertanyakan pemasangan bilik sterilisasi tersebut. Sebab, selain bahaya bagi kesehatan manusia, ternyata bilik sterilisasi tersebut juga jarang digunakan oleh warga Surabaya.

Pro-kontra di masyarakat terkait dengan bilik sterilisasi tersebut menjadi perdebatan di Gedung DPRD Yos Sudarso, Kota Surabaya. Terbukti terjadi silang argumentasi di mata sebagian para wakil rakyat Yos Sudarso.

Simak Video : LKPJ Walikota Surabaya Dikoreksi Dewan

Ahmad Suyanto, politisi PKS meminta Pemkos melakukan kajian atau mendiskusi kepada para ahli sebelum mengeluarkan keputusan.

“Sekarang kita ini sebelum memberi kebijakan harus punya rujukan. Rujukan itu harus yang ahli dan memang di dunianya, gitu lo. Oleh karena itu apakah bilik ini dinyatakan aman atau tidak, tanyakan ke ahlinya,” jelasnya (6/4/20).

Disinggung bilik sterilisasi jarang digunakan oleh warga masyarakat. Politisi berdarah Madura ini menjelaskan karena di bilik sterilisasi itu ada susuatu. “Kenapa jarang digunakan? Berarti ada sesuatu, manusianya tidak mau pakai ini (bilik sterilisasi). “Oreng-Oreng takok nganggui riyah (orang-orang takut makai ini,” pungkasnya.

Sementara, M. Machfudz politisi PKB mengaku sejak awal sudah tidak setuju Pemkos menggunakan bilik sterilisasi. Sebab, bahan yang digunakan berbahaya bagi kesehatan manusia.

“Memang dari awal masalah bilik ini saya tidak setuju. Karena apa? Karena berbahaya bagi kulit, bagi kelopak mata. Dan ternyata Kemenkes mengeluarkan edaran bahwa bilik ini sebaiknya tidak digunakan, karena memang bilik ini (bahanya) bukan untuk manusia,” ujarnya.

Berbeda dengan Ahmad Suyanto dan M. Machfudz. Politisi Partai Golkar Arief Fathoni menjelaskan, sejak wabah ini muncul ada keraguan bagaimana cara menanganinya. Sehingga masing-masing kepala daerah memiliki cara berbeda dalam menangani Pandemi corona.

“Masing-masing kepala daerah punya inovasi-inovasi. Ya mungkin Surabaya inovasinya memasang bilik sterilisasi. Meskipun di kemudian hari terjadi perdebatan. Saya pikir inovasi itu layak diapresiasi. Karena memang tidak mudah menangani pandemi ini,” tutur pria yang akrab disapa Thoni ini.

Untuk lebih jelasnya silahkan simak pernyataan ketiga politisi tersebut yang tervisual dalam video di bawah ini ;