RAJAWARTA : Sebanyak 24 anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PDI Perjuangan mengunjungi Surabaya, Jumat (20/12/2019). Para wakil rakyat tersebut jauh-jauh dari Jakarta berkeinginan untuk menyerap ilmu dan inovasi dari Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. 

Ini berita bagus : 7 bacakada Jatim dapat rekomendasi PDIP

Diterima di ruang kerja Risma dan ruang sidang Balai Kota Surabaya, para wakil rakyat dari ibu kota negara tersebut mempelajari berbagai inovasi salah satu walikota terbaik dunia itu.

Video pilihan untuk Anda : Pak Menteri Tanggapi Penanganan covid 19 Kota Surabaya

Risma pun memaparkan berbagai inovasi yang dijalankan Pemkot Surabaya. Saat Risma sedang fokus memaparkan penanganan permasalahan darurat warga hingga program membantu warga miskin yang sakit melalui empat skema sinergi dengan BPJS Kesehatan, sejumlah anggota DPRD DKI Jakarta melempar celetukan.

Video Pilihan Untuk Anda : Jatim dan Surabaya saling Tuding Terkait Data covid 19

“Coba Jakarta kayak begini,” ujar seorang anggota DPRD DKI Jakarta yang langsung disambut tepuk tangan dan tawa ceria seluruh peserta pertemuan.

Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD DKI Jakarta, Gembong Warsono, mengatakan, kedatangan timnya ke Surabaya ini untuk menimba ilmu kepada Risma di segala bidang. Mulai penataan kota, manajemen banjir, hingga kerukunan umat beragama.

“Jakarta duitnya gede, tapi penyelesaian masalahnya kok enggak ngerti saya. Tiap hari ini saya kirim saran dan komplain ke Pak Anies Baswedan (Gubernur DKI Jakarta). Semoga setelah saya balik ke Jakarta, Pak Anies langsung fokus meniru Bu Risma agar semua masalah di Jakarta cepat beres,” ujar Gembong.

Gembong mengatakan, karakter Jakarta dan Surabaya secara geografis maupu sosiologis kurang-lebih sama. Jakarta dan Surabaya sama-sama daerah di pesisir. Kedua daerah itu juga sama-sama multikultur dan multietnis.

Setelah mendapat ilmu dari Risma, para wakil rakyat itu akan menyampaikan kepada Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. “Tidak ada salahnya belajar kebaikan, berlomba-lomba dalam kebaikan. Kami ingin pembangunan di Jakarta bisa sesukses di Surabaya,” tandasnya.

“Misalnya soal penataan sungai biar bersih, bagaimana manajemen banjir, bagaimana ruang terbuka hijau, pokoknya kita belajar ke Bu Risma,” pungkas Gembong.

Anggota dewan lainnya, Ima Mardiah memuji pengelolaan APBD Kota Surabaya yang dinilai sangat transparan, akuntabel, dan jauh dari praktik penggelembungan anggaran. Sistem yang dibangun Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini dinilai wakil rakyat dari ibukota negara sebagai perwujudan nyata semangat anti-korupsi.

”Memang kelihatan banget bagaimana semangat anti-korupsi ala Bu Risma. Dia bukan hanya bangun sistem, tapi juga dari dirinya tidak ada niat mencuri uang negara. Jadi di Surabaya tidak ada anggaran-anggaran ganjil ,” ujarnya.

Surabaya memang dikenal sebagai pelopor e-Government di Indonesia. Dimulai sejak 2002 saat Risma ketika itu menjadi kepala Bagian Bina Pembangunan Pemkot Surabaya , di mana telah dikembangkan e-Government yang kemudian dilanjut dengan e-Budgeting, e-Procurement, e-Musrenbang, e-Audit, e-Performance, dan berbagai sistem penunjang secara terintegrasi. 

Bahkan, Walikota Risma pun telah menghibahkan sistem e-government kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) agar bisa diterapkan daerah lainnya.

Ima yang merupakan mantan staf Basuki Tjahaja Purnama itu menambahkan, Pemprov DKI Jakarta saat ini perlu mencontoh cara Risma mengelola anggaran. Dia menilai tidak ada konsistensi kebijakan di DKI Jakarta, karena di era Jokowi hingga Ahok, pengelolaan anggaran sangat transparan dan tepat sasaran. 

”Kuncinya ada pada leadership. Karakter kepemimpinan yang bebas korupsi memastikan seluruh organisasi itu bebas praktik haram. Tapi kalau sudah ada niat pengadaan barang-barang enggak urgen, markup, niat, ya bikin rakyat sedih,” kata Ima.

Ima juga belajar tentang bagaimana Risma menerapkan prinsip pengelolaan keuangan negara secara tertib, sesuai UU Keuangan Negara. Salah satunya adalah prinsip efisien, ekonomis, efektif, transparan, dan bertanggung jawab dengan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan

”Jadi Bu Risma pakai prinsip itu, artinya dia belanjakan APBD bukan dengan pendekatan proyek. Jadi yang benar-benar memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan. Misalnya, tidak bikin pengadaan yang tidak urgen dan tidak efisien. Seperti di DKI Jakarta, kan enggak seharusnya beli barang-barang puluhan miliar padahal barang itu enggak diperlukan rakyat. Baru karena kita sorot, baru deh ramai,” ujarnya.

Prinsip yang diterapkan Risma ditunjang dengan sistem perencanaan yang bagus juga memastikan semua pembangunan di Surabaya berjalan efektif dan efisien.

”Di Surabaya enggak ada bangun sesuatu,  eh begitu sudah jadi, dibongkar lagi, seperti yang lagi ramai di Jakarta. Kalau bangun, lalu bongkar lagi, berarti kan enggak efisien dan enggak efektif. Rakyat dirugikan karena itu kan duit rakyat,” ujarnya.

Berkat prinsip-prinsip yang diterapkan Risma, sambung Ima, pembangunan Kota Surabaya berhasil. Semua indikator menunjukkan progress meyakinkan. 

”Padahal APBD Surabaya ini hampir sembilan kali lipat lebih rendah dibanding APBD DKI Jakarta, tapi di sini pengelolaannya transparan, hasilnya optimal. Karena yang dilakukan bukann pendekatan proyek, tapi pendekatan ekonomis dengan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan,” tegasnya.

Setelah audiensi Ruang Sidang Walikota, seluruh anggota Fraksi PDI Perjuangan DKI Jakarta yang ikut berkunjung ke Gedung Siola dibuat terkesima oleh Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. 

Bahkan Ketua Fraksi PDIP DKI Jakarta Gembong Warsono tidak bisa memberikan kata-kata untuk menggambarkan fasilitas yang ada di gedung di Jalan Tunjungan, Surabaya ini.

“Kalau ditanya kesannya, saya tidak bisa berkata-kata. Hanya bisa begini,” ujar Gembong sambil mengangkat dua jempolnya, ditemui disela kunjungan.

Menurutnya, banyak hal yang bisa diadopsi hanya dari Gedung Siola. Diantaranya adalah Command Center 112 Surabaya. 

Saat di gedung bersejarah ini, Wali Kota Risma mengajak keliling fasilitas yang ada di Siola. Mulai dari Unit Pelayanan Terpadu Satu Atap (UPTSA), Command Center, Koridor Co-working Space, Puspaga (Pusat Pelayanan Konsultasi Keluarga) dan centra UKM yang ada di Siola.

Sementara itu, salah seorang anggota Fraksi PDIP DKI Jakarta, Agustina Hermanto atau yang populer dengan nama Tina Toon mengaku sangat terinspirasi dalam kunjungan kerja kali ini. Dia mengaku sangat terinspirasi  apa yang telah dilakukan Wali Kota Risma.

Menurut Tina Toon, sistem di Pemkot Surabaya sudah sangat berjalan dengan baik. Namun sistem itu tidak akan bisa berjalan dengan baik jika orang-orangnya mau bekerja. Nah posisi Wali Kota Risma dinilai sangat berhasil dalam memimpin orang-orang di pemkot agar sistem tersebut bisa berjalan baik.

“Seharusnya kita malu ya.  Karena anggaran lebih besar dan tentu fasilitas di Jakarta lebih lengkap. Tapi saat kita ke Surabaya ternyata kita sangat ketinggalan banyak. Setelah kita tahu seperti ini di Surabaya, saat rapat di komisi nanti bisa kita sampaikan,” tandasnya.

Menanggapi kunjungan kalangan DPRD Provinsi DKI Jakarta, Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini mengapresiasi silaturahmi tersebut. Menurutnya, melalui kunjungan tersebut bisa saling tukar pengetahuan, untuk mensejahterakan masyarakat.

“Kalau ke manapun, saya ambil yang positif kemudian saya terapkan di Surabaya sesuai karakter kota,” terangnya

Untuk itu, Wali Kota Risma berharap, kalangan dewan dari DKI Jakarta bisa mengambil hal-hal positif dari Surabaya untuk diterapkan di wilayah DKI Jakarta. (*)

Setelah baca beritanya, saksikan videonya di bawah ini :