SURABAYA – Menanggapi penilaian masyarakat mengenai volume pembangunan Kota Surabaya tahun 2026 yang dianggap lebih sedikit dibandingkan tahun 2025, Achmad Nurdjayanto anggota Komisi C Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Surabaya memberikan klarifikasi. Munculnya kecurigaan publik terkait adanya pengurangan anggaran atau pemangkasan jumlah paket pekerjaan dipastikan tidak benar.
Politisi Golkar yang juga Komisi C DPRD Kota Surabaya, menegaskan bahwa dari segi anggaran, dana yang dialokasikan untuk pembangunan fisik, khususnya penanggulangan banjir, justru mengalami peningkatan yang signifikan.
“Kalau secara anggaran, bisa saya pastikan itu tidak berkurang. Di badan anggaran sendiri, untuk penanggulangan banjir itu anggarannya tetap, bahkan mungkin bertambah,” ujar Achmad.
Pergeseran Teknis: Dari Pemukiman ke Saluran Primer
Achmad menjelaskan bahwa persepsi masyarakat yang merasa pembangunan berkurang disebabkan oleh adanya perubahan fokus dan teknis pelaksanaan di lapangan. Pada tahun 2025, pembangunan lebih banyak menyasar kawasan pemukiman, seperti perbaikan drainase lingkungan dan saluran di perkampungan (pinggiran kota).
Sementara pada tahun 2026, fokus dialihkan ke pemeliharaan, optimalisasi rumah pompa, serta pembangunan saluran-saluran primer (skala besar). Langkah ini diambil untuk memastikan aliran air dari saluran sekunder dan tersier yang sudah terbangun di pemukiman dapat dialirkan secara lancar dan terintegrasi.
Klaim 80 Persen Kawasan Perkampungan Bebas Banjir
Menurutnya, program konektivitas saluran drainase yang gencar dilakukan oleh Wali Kota pada tahun-tahun sebelumnya telah membuahkan hasil yang cukup baik. Saat ini, kondisi penanganan banjir di tingkat pemukiman diklaim sudah hampir rampung.
“Harusnya sudah 80 persen clear (bebas banjir), karena memang semangatnya Wali Kota kemarin mengkoneksikan saluran drainase itu sudah hampir 80 persen terlaksana,” tambahnya.
Meski begitu, ia mengakui masih ada beberapa wilayah pemukiman yang belum terkoneksi sepenuhnya dan tetap menjadi kewajiban pemerintah kota untuk menyelesaikannya. Namun untuk wilayah yang sudah terhubung, fokusnya kini bergeser pada aspek perawatan dan pemeliharaan jangka panjang agar tidak terjadi masalah baru.
Perbandingan Anggaran 2025 vs 2026
Berdasarkan data yang dibagikan oleh Komisi C, tren anggaran pembangunan Kota Surabaya justru menunjukkan grafik kenaikan yang matang. Pihaknya berkomitmen agar pembangunan tidak lagi bersifat sporadis, seperti sekadar meninggikan jalan tanpa memikirkan muara aliran air.
Estimasi Nilai Anggaran Pembangunan:
– Tahun 2025 Rp800 Miliar, fokus pada pembangunan Saluran kawasan pemukiman, perkampungan, dan peninggian jalan.
– 2026 Rp1,2 Triliun fokus pada pembangunan Saluran primer, penambahan & optimalisasi rumah pompa, serta pemeliharaan sistem drainase.
Dengan anggaran yang menyentuh angka Rp1,2 triliun pada tahun ini, Komisi C berharap masyarakat tidak perlu khawatir.
Achmad menekankan bahwa esensi utama dari pembangunan bukanlah seberapa banyak proyek yang terlihat kasat mata di depan rumah warga, melainkan bagaimana anggaran APBD digunakan secara efektif dan tepat sasaran untuk menyelesaikan masalah banjir secara tuntas di Kota Surabaya.













