RADJAWARTA : Salah satu destinasi wisata kuliner yang sangat terkenal di Surabaya adalah Surabaya Town Square atau lekat disebut Sutos. Segmen pasarnya menengah keatas.

Mulai dari Cafe, restoran, hingga club tersedia di Mall yang keberadaannya tidak jauh dari Kodam V/Brawijaya. Sutos sangat digandrungi para penggila kuliner, utamanya milenial.

Namun, belakangan ini ada beberapa stand terlihat tutup. Lalu apa penyebab beberapa stand di Sutos gulung tikar? Media ini mencoba mengorek informasi dari menejer Tator the Cafe, Hendra Setiawan.

Hendra tidak membantah jika salah satu penyebab tutupnya stand di Sutos adalah kondisi ekonomi saat ini yang kurang berpihak pada pengusaha. “Kondisi ekonomi menjadi salah satu faktor tutupnya beberapa stand di sini,” cetus pria komunikatif ini (12/4).

Lebih dari itu ungkap Hendra, penyebab lainnya adalah karena sang pengusaha tidak bermental ‘penyintas’ untuk menghadapi tantangan pasar.

“Kita (Tator) disini sudah sepuluh tahun, buktinya sampai sekarang kita masih bisa bertahan,” ujarnya sembari menjelaskan bahwa Tator singkatan dari Tanah Toraja.

Pria komunikatif ini lalu menjelaskan, untuk bisa betahan di dunia usaha yang penuh kompetiter ini adalah kreatif, inovatif dan selalu melihat sendiri keadan pasar.

“Sebagai menejer saya selalu mencari tahu apa yang diinginkan pasar. Dan, Tator selalu menjaga kualitas menu, kualitas layanan, dan menyajikan suasana yang nyaman,” kupasnya.

Meski demikian, antara layanan dan kualitas menu harus berjalan seiring. “Kalau makanannya enak tapi layanan tidak baik, dan sebaliknya maka akan sulit mencari dan mempertahankan pelanggan,” jelasnya.

Dia menambahkan Tator sendiri memiliki menu favorit yang digemari pelanggan. “Menu favorit kita sup buntut dan nasi goreng mawut. Kalau minumannya kopi toraja,” tutupnya.